MONDOK
Cerpen Karya Aksa Byakta Diwangkara (7A)
Malam itu terasa cepat sekali. Rasanya baru sekedip mata, tapi suara kokok ayam segera terdengar. Kukkuruyukkk. “Ali, bangun Nak. Sudah subuh,” teriak Ibu dari dapur membangunkanku. Aku pun terbangun dari tidur lelapku, dan segera beranjak mengambil air wudhu. Selesai wudhu, aku langsung diajak sholat jamaah bersama ayah ibu.
Fajar telah berlalu. Aku membantu ibu menyiapkan bekal untuk ayah. Ia harus berangkat lebih pagi karena ada lemburan yang belum diselesaikan. Padahal, kemarin ia pulang larut malam. Pengorbanan ayah selalu bisa membuat aku lebih kuat menghadapi banyak hal. Sebelum matahari terbit sempurna, ia segera berangkat.
Setelah itu, ibu mengajakku untuk sarapan pagi. Namun mengingat sore nanti aku harus berangkat ke pondok, membuat nafsu makanku sedikit berkurang. Rasa sedih karena akan meninggalkan rumah membuatku kenyang lebih cepat. Aku hanya makan sedikit, padahal ibu telah masak sop kesuakaanku.
“Li, kalau sudah selesai, bantu ibu ya. Tanamannya disiram, terus ayamnya dikasih makan,” pinta Ibu sambil mencuci piring. “Ya Bu,” jawabku singkat. Hari ini aku tidak bermalas-malasan, karena tahu besok aku sudah tidak bisa membantu ibu lagi.
Selesai membantu ibu, aku teringat belum berpamitan dengan teman-teman seangkatan di rumah. Biar bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang berarti buat aku. Aku mendatangi mereka yang rumahnya dekat, dan berpamitan melalui group WA kepada mereka yang tak bisa kukunjungi. Salah satu temanku ternyata juga ada yang mondok. “Alhamdulilah, akhirnya aku ada teman mondoknya,” kataku dalam hati. Aku senang, meskipun pondok kami tidak sama.
Setelah berpamitan aku pun menyiapkan barang bawaanku. Dasar baru lulus SD, aku masih kelimpungan mencari barang-barangku. “Bu, peciku di mana ya? Sama tas yang besar juga,” teriakku dari kamar. “Dicari di atas lemari, kalau pecinya ada di gantungan,” jawab ibu dari dapur yang sedang memasak bekal. Setelah itu, pertanyaan lainnya terus menyusul, di mana sepatuku, baju, kaos kaki, dan lain sebagainya hingga membuat ibu harus bolak balik ke kamar dan dapur. Tapi ibu tetap sabar, aku pun menyadari betapa pentingnya ibu. Entah bagaimana jika aku jauh darinya.
Selesai mengemas barang, ayah pulang. Kami pun makan bersama sebelum sholat dan mengantarku berangkat mondok. Entah kenapa kesedihanku bertambah. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.30. Artinya sebentar lagi aku akan berangkat menuju penjara suci.
Hatiku berdebar-debar, antara sedih, penasaran, dan juga senang akan bertemu banyak orang baru. Aku mengambil air wudhu untuk menghilangkan kgelisahanku, juga sekalian sholat zuhur berjamaah dengan ayah dan ibu.
Pukul 13.30 barang-barangku sudah masuk mobil. Ayah memintaku berpamitan kepada paman dan meminta do’a restunya sebelum berangkat. Lagi-lagi, mendengar doa paman, aku menahan tangis yang hendak tumpah.
Perjalananku dimulai, begitu juga dengan pikiranku. Aku menyusuri banyak sekali pertanyaan, soal bagaimana aku akan berkenalan dengan anak baru, bagaimana aku merawat baju-bajuku, makanan apa yang akan aku temui, dan pertanyaan lainnya. Mungkin karena aku nampak gelisah, ibu menyuruhku membaca istighfar, agar aku lebih tenang.
Sesampainya di pondok, aku dan ibu segera mengurus pendaftaran. Setelahnya aku sowan ke ndalem al-mukarrom. Setelah semua prosedur selesai, aku segera berpamitan kepada ayah dan ibu. Meski berat, melihat banyak ladang kebaikan di pondok mebuatku dapat tersenyum berpisah dengan ayah dan ibu. Setelah keduanya hilang dari pandangan mataku, aku menarik nafas panjang. Inilah awal kehidupan baruku.
Aku langsung menuju kamar, berkenalan dengan teman baru, dan bercengkrama bersama mereka. Malamnya, jadwal kegiatan selama di pondok dan madrasah sudah kuketahui. Padatnya kegiatan tentu akan sangat menantang. Bangun tidur, aku akan langsung sholat berjamaah dan mengaji. Pulangnya, aku harus bergegas menuju madrasah. Menjalani hari-hari menuntut ilmu sampai pukul tiga sore. Setelah itu, antri mandi, ikut ekstra Qiroah sebelum maghrib, sholat maghrib dab isya, lalu kembali mengaji bersama Ustadz, lalu belajar dan tidur.
Sungguh, betapa bahagianya aku bisa mendalami ilmu agama di tempat yang penuh keberkahan. Meski berat, harus jauh dari orangtua, dan menjalani aktivitas yang padat, namun siapa yang ingin merasakan perihnya kebodohan. Bukankah Imam Syafi’i telah memberikan nasihat, “Jika Kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup merasakan perihnya kebodohan.”
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Jalan Pelan Sampai Tujuan
*Pantun karya Muhammad Najih Syihabudin 7C Jalan-jalan ke surabaya Jangan lupa berpamitan Jika bimbang sekolah dimana Mondok saja di Al-Iman Malam-malam beli kebab
RUMAH ASA
Cerpen karya Qina Naqiya Irdhina (8D) *Juara 2 Lomba Cipta Cerpen dengan Tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus Pagi hari
PENGORBANAN PENGABDI NEGARA
Cerpen karya Gesit Surya Kusuma (9A) *Juara 3 Lomba Cipta Cerpen dengan tema Pahlawan Hari Ini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Abdurrahman Wahid MTs Al-Iman 02 Bulus K
Kekuatanku yang Fana
Puisi karya Raihan Hafiz Ramadhan (7A) Kuayunkan pedangku tuk memerangi nafsu Kutembakkan senapanku tuk memberantas malasku Kuledakkan bomku tuk menghancurkan kenakalanku Ku
MAGHRIB (Part 2)
Cerpen karya M Hafel Bimasina (9B) “Le, itu kamu nak?” suara Bapak kembali datang dari arah dapur. Aku ragu untuk menengok ke sana. Aku masih menunggu jawaban
Aku, Kamu, dan Pena
Puisi karya Aisyah Aqlina (9F) Ini bukan tentang kita Tapi tentang aku, kamu, dan pena pena yang menggoreskan sejarah baru tentang kita di atas buku putih dan biru &n
Negeri Para Siluman
Fabel karya Achmad Zaini Dahlan (9A) Di suatu negeri, tinggallah kumpulan manusia yang sebagian besar penduduknya merupakan jelmaan dan beberapa hewan liar (siluman). Diceritak
Harga Sebuah Pertemanan
Cerpen karya Siti Alifatul M (9D) Pagi ini matahari bersinar cerah. Di depan gedung SMA yang megah, dua orang siswi yang sangat akrab sedang bercengkrama. Mereka adalah Ca
Jaksa Muda
Cerpen karya M. Ikhsan Zain (9A) Mata Zeta melihat ke arah papan tulis yang berisikan materi-materi tentangm sejarah dan hukum-hukum. Zeta adalah siswa yang sangat rajin di kel

